Analair

Lair of Analyst

Kunti dan Angin Yang Berhembus di Padang

Malam telah pulang. Meninggalkan tanya, di pagi yang teduh dengan embun
yang masih bergelayut di rumput-rumput dan dedaunan. Kunti masih merenung
di bawah sebuah pohon yang daunnya banyak terbakar waktu. Sejenak ia
berdiri, dan berlari kecil ke arah matahari terbit. Direntangkan tangannya,
ditatapnya lekat-lekat matahari. Sejumlah keluh tertahan di otaknya. Ia
meragu. Kepada siapa kan kukeluhkan tanya.

Perlahan dipejamkan mata. Menahan tanya yang terus mengoyak dada. Bibirnya
beku. Kunti berlari lagi ke bawah pohon. Tersimpuh. Dilihatnya embun yang
berpendar di ujung hijau rumput teki. Ia berkeluh,” Di manakah Tuhan.”

Bibirnya bergetar. Dadanya bergetar. Seluruh tubuhnya bergetar. Tanya itu
telah kembali mengguncangkan seluruh nadi kerinduannya. Yang sudah sekian
lama membuncah hati. “Di manakah Tuhan”. Dipejamkan mata, rindunya tertahan.

Pelan. Dingin. Angin merambat. Bangunkan rumput-rumpur yang terlelap.
Ditempelkan rasa dingin di kulit dan wajah Kunti. Kunti terkesiap.
Dipalingkan wajah mengikuti arah angin bertiup. Pagi itu ia dapatkan dingin
yang lebih, daripada pagi-pagi sebelumnya.

“Angin….” ucapnya lirih.
Angin berhenti, ditatapnya Kunti dengan ragu.
“Adakah kau lihat Tuhan?” tanya Kunti ragu.

Angin merambat pelan, mempermainkan ujung-ujung rumput, ia berputar-putar
naik ke atas menggoyang dan membelai daun- daun. Angin berputar-putar di
tanah luas. Ia bawa daun-daun kering dan dihamburkannya ke angkasa. Kunti
merentangkan tangannya menyambut daun-daun kering yang berjatuhan.
Dibiarkannya angin mengangkat rambutnya. Angin sejenak berhenti.

“Adakah kamu lihat aku,” tanya angin pada Kunti.
“Tidak,” jawab Kunti.
“Apakah kau tahu kalo aku ada,” tanya angin lagi.
“Iya,” lanjut Kunti.
“Tuhan ada di mana-mana, Ia hadir di sini bersama kita, Ia ada di jauh sana
di matahari, Ia ada di kolong-kolong jembatan, di gedung-gedung. Ia penuh
mengisi semesta ini. Namun Tuhan hanya bisa diyakini, dan dirasakan oleh
jiwa yang jernih.”

Kunti diam. Diambilnya bunga rumput, ditiupnya, dan biji-biji ringan
bersayap itu beterbangan dan perlahan-lahan jatuh kembali ke tanah.

“Aku hanya ingin Tuhan, bukan dunia ini, aku ingin dalam pangkuan Tuhan,
dalam damai yang sebenarnya damai, dalam cinta yang agung. Apalah arti
semua kefanaan ini. Aku cape dengan semua omong kosong dunia ini. Capai!“

Angin meliuk di dahan. Bergoyang-goyang sebentar. “Ooo hooo… Fana? Memang
itulah sifat dari dunia ini. Segalanya fana. Takdirmu adalah dunia ini,
jangan coba mengingkari.”

“Aku tidak mencoba mengingkari, Angin! Juga tidak mencoba untuk lari.
Apakah ini tempat pembuangan? Seperti Adam dan Siti Hawa yang terdahulu ?”

Angin menengadah menahan kegalauan. “Kunti, bagaimana emas dengan kemurnian
tinggi didapatkan? Peleburan! Dengan peleburan di dunia inilah, hati
diharapkan menjadi kembali murni.”

Kunti berdiri. Menarik tangannya keatas. Pejamkan mata. Nikmati bau tanah
pagi hari. “Aku tengok ke kanan, kemunafikan. Aku tengok ke kiri
kebohongan. Aku lihat di depan, tipu daya. Aku coba berbalik ke balakang,
hanya omong kosong belaka. Angin…. Aku tidak ingin terlalu lama di sini, di
dalam dunia kepalsuan ini. Biarkan aku lepas dari segala kedustaan ini.”

Angin terkejut. Terpental membentur bukit. Dalam sadar ia membumbung tinggi
ke awan dan meluncur ke bawah dengan segumpal kabut dalam
rengkuhnya. “Kunti…., apa pedulimu dengan semua tipu daya, kemunafikan,
kebohongan dan kedustaan di bumi ini? Semua itu adalah urusan mereka dengan
Tuhan, bukan kamu. Jika ada suatu ketika, seorang sehat berpura-pura sakit
dan minta bantuanmu. Adakah kamu merasa tertipu saat hatimu sangat tulus
untuk membantu? Jangan kotori tulusmu dengan marah. Kunti…. Tetaplah
berjalan di dunia ini, karena Tuhan ada di semua tempat di dunia ini.”

“Angin…. Tidakkah kau rasakan, betapa merindunya aku pada Tuhan? Rindu ini
telah menyanyatku menjadi serpih-serpih, yang tiap serpihannya selalu
bergetar menahan rindu yang amat sangat. Angin….. aku ingin di dalam Tuhan.
Di dekat Tuhan. Di mana pun Ia.”

Angin terdiam. Diambilnya wangi bunga alang-alang. Dicecapnya. Dibiarkan
tubuhnya terjatuh dan bergulung di atas rerumputan. Angin merambat jauh,
sambil punguti embun yang masih menempel di badan-badan rumput, dan
dikembalikannya lagi ke angkasa. Dipandanginya wajah Kunti dari kejauhan.

Angin masih diam. Kunti diam. Kesunyian membeku.

Angin melesat ke atas dibawanya selaput tipis awan, untuk hari yang masih
muda. Ia berhembus lagi kebawah ke dekat Kunti yang sedang memainkan bunga
biru muda.
“Kunti…!” ucap angin nyata. “Lepaskan keinginanmu itu. Endapkanlah. Semua
akan tiba pada saatnya. Adakah baiknya bayi yang terlahir pada umur empat
bulan? Kunti…. Biarkan masa itu datang. Tapakkan kakimu lekat-lekat di
bumi. Nikmatilah apapun aroma yang dihidangkan. Di bumilah tempat belajar
tentang kesabaran dan ketulusan.”

Angin berhembus ke belakang, disangkutkannya selembar daun kering di rambut
Kunti. “Ke mana pun menoleh selalu saja kau dapatkan kepalsuan dan hal-hal
yang serupa. Mampukah untuk selalu tulus dan ikhlas.”

Kunti mengarahkan wajahnya ke matahari. Hangat itu membelai kulit bayinya.

“Di dunia, yang berlaku adalah hukum dunia. Tidak bisa dihindari. Setiap
benda pasti jatuh ke bumi. Setiap orang butuh makan, dan tidak mungkin
hidup sendiri. Hukum-hukum dunia harus dijalani. Bersabarlah untuk itu.”

Angin berhembus perlahan, menyapu seluruh hamparan rumput. “Kunti… Tuhan
selalu ada dalam setiap sabar dan tulusmu. Tidak perlu dicari. Tuhan akan
selalu ada, bila tempatnya tidak kamu gantikan dengan hal-hal lain. Tetap
jejakkan kakimu di bumi, selesaikan tugasmu! Dan akan kau lihat senyum
Tuhan di wajah-wajah sekitarmu.”

Angin membubung ke angkasa, Kunti berteriak padanya, “Kemana aku harus
melangkah?”

“Tidak perlu arah, Kunti. Tidak perlu tuju. Di mana kau berada, di situlah
Tuhan berkehendak. Tanpa sesal. Hanya tulus dalam kuasa-Nya.” Angin terus
membubung ke angkasa. Diambilnya lagi awan putih. Ditaruh di atas Kunti.

Kunti berdiri. Diraihnya langit. Ditariknya ke bawah. Disayatnya pagi.
Dikeluarkannya gerimis. Mandilah ia dalam guyuran sejuk titik-titik air.
Tak lupa dilambaikan tangannya pada angin yang kembara.

Angin kembali terbang menjauh. Kini ia merayapi Kinibalu, menyaksikan hutan
yang sekarat, dengan tangan terikat ke belakang dan mata tertutup. Di
hadapan sang penjagal dengan sawmill yang siap memancungnya.

***
Cerpen Aphelium
Pontianak, 06/10/02

Posted by: Mardun

November 19, 2006 - Posted by mardun | Stories | | 2 Comments

2 Comments »

  1. dealership ford houston tx

    Comment by Woorececom | June 24, 2007

  2. lone star ford houston texas

    Comment by Woorececom | June 25, 2007


Leave a comment